Showing posts with label #Pertama. Show all posts
Showing posts with label #Pertama. Show all posts

5 Dec 2012

Pertama : Mari mengISLAH diri wahai Ummat!


Kebanyakan kita pada hari ini seperti yg disabdakan oleh baginda Rasulullah SAW :

“satu hari nanti kamu akan dikerumuni musuh, sebagaimana semut menggerumuni makanan”

sahabat-sahabat bertanya:

“apakah kami ketika itu sedikit ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW menjawab:

“tidak, bahkan kamu ramai..tetapi hanya seperti buih di lautan”

seperti buih di lautan..seperti buih di lautan..seperti buih di lautan..berbeza dgn saudara2 kita disana,betapa beruntungnya kita kerana masih ada saudara2 kita disana yg mempertahankan Islam.. Rasulullah SAW bersabda:

“akan sentiasa ada segolongan dari ummatku yang menegakkan kebenaran, dan berjuang menentang musuh mereka. Barangsiapa yang cuba menghampakan mereka, sesekali tidak akan dapat melukakan mereka, mahupun oleh kesusahan yang menimpa mereka, sehingga datang keputusan Allah, dan mereka akan tetap sedemikian”

sahabat-sahabat bertanya:

“wahai Rasulullah, di manakah mereka ini?”

Rasulullah SAW menjawab:

“di Baitul Maqdis, dan sekitar Baitul Maqdis”..sebenarnya apa yg terjadi di Palestin hari ini, adalah teguran Allah SWT kepada ummat Islam hari ini..bukan kepada Palestin semata-mata..tetapi kepada mereka yg mengaku bertuhankan Allah dan mengakui Muhammad utusan Allah..hanya apabila yg ditegur itu tersedar dan menerima teguran, hanya ketika itu teguran ini akan diangkat dan diselesaikan urusannya.. 
 mereka berjuang bukan hanya utk membebaskan sebidang tanah

 hal Palestin, bukan hal mereka sahaja..Palestin, bukan tanah mereka semata-mata..Palestin, adalah masalah ummah..ini isu ummah..ini isu serius..tidak boleh dibuat main2..ini tanah suci ketiga ummah..dan walaupun ini tarafnya tanah suci, ummah kita tetap membuta mata dengan situasinya yg ternoda. ini, menandakan ummah kita ada masalah..kalau ummah tidak TERISLAH, maka jika Palestin berjaya dibebaskan juga, kejayaan saudara kita di Palestin itu nanti akan menjadi sia-sia..

bayangkan, jika mereka, saudara2 kita di Palestin akhirnya berjaya merampas kembali Palestin dari Israel suatu hari nanti, kemudian? adakah itu sudah cukup? adakah itu menunjukkan telah berakhir segala perjuangan di muka bumi? tidakkah anda melihat betapa seluruh musuh-musuh Allah di pelusuk dunia akan menumpukan serangan mereka ke arah Palestin jika perkara itu terjadi dan pastinya akan terjadi suatu hari nanti? ketika itu bagaimana? kalau Palestin berjaya, maka pastinya ini akan menggemparkan dunia..negara-negara besar seperti Amerika Syarikat tidak akan berdiam diri dan menunggu lama..pastinya, semua kekuatan akan ditumpukan kepada Palestin..anda nampak sekarang? kalau ummah kita seperti hari ini, masih lagi nafsi-nafsi (masing2 buat hal masing2), bergaduhan, tidak bersatu, bacul, pengecut, kuali, tidak mengambil Islam sebagai perlembagaan, maka siapa yg akan bersama dengan Palestin ketika dunia menumpukan seluruh kekuatannya untuk menghapuskan Palestin dari muka bumi ini keseluruhannya?

TIADA..akhirnya, semua perjuangan, pengorbanan sebelum ini akan menjadi sia-sia sahaja..


adakah anda nak mengharapkan ummah kita yg tidak menjalankan perintah Allah?

Tidak..Mustahil..
  adakah anda hendak mengharapkan ummah kita yg mengingkari Allah?”

Lagi mustahil..

adakah anda hendak mengharapkan bantuan mereka yg tidak mengambil Islam sebagai cara hidup?

Tidak..sama sekali tidak..kalau Islam tidak diambil sebagai cara hidup, bagaimana hendak mengorbankan diri dalam membantu agama Allah?

 ketahuilah, ummat kita sedang terkena penyakit2 cinta dunia ini..mustahil mereka ini, akan membantu Palestin melainkan mereka ini TERiSLAH kepada yg benar semula.. “Wahn?” Wahn adalah perkataan yg membawa maksud cinta dunia dan takut mati..Rasulullah SAW pernah bersabda akan wahn apabila berbicara berkenaan kelemahan ummat akhir zaman.. 
 di sinilah ujiannya..hendak membebaskan Palestin, perlu amal jama’ie..amal Jama’ie, x semestinya buat satu kerja sama-sama..tapi kita buat banyak kerja, untuk capai satu matlamat yg sama..amal jama’ie tidaklah bermakna mereka di sana berperang, kita pun kena perang jugek..amal Jama’ie di sini yg diperlukan adalah, mereka berusaha bertahan, dan masyarakat di luar seperti kita berusaha mengislah diri sendiri..sebab tanpa kesedaran dan pengislahan ummah, maka Palestin ini tetap tidak akan terbebas sampai bila-bila..Jihad mereka di Palestin bukan jihad semata-mata merampas semula satu kawasan yg dijajah..Jihad mereka adalah bertahan, sambil terus-terusan memperkuat dan memperhebatkan diri, menanti kita, ummah di luar dari Palestin bergerak mengISLAH diri, dan akhirnya barulah BERSATU dan membebaskan tanah mulia ini..amal Jama’ie.. 
moga Allah mencampakkan hidayah kepada semua yang berada di luar sana..

mereka akan terus bertahan, menanti kebangkitan saudara-saudara mereka di luar sana utk sedar dan bergabung perjuangan dengan mereka nanti..bila tiba saatnya, mereka akan memenangi peperangan ini, seterusnya disokong seluruh saudara seiSlam di luar sana..kita semua~ wahai ummah, mereka memanggil-manggil anda..peringatan bersama..peringatan buat anda dan pastinya peringatan buat diri sendiri.. 




21 Nov 2012

Remember all of the first moments?




The first time you succeeded in riding your bicycle,
The first time in your life that you have ever tried learning how to swim,
The first time of you knowing how to read and write,
The first time, the first time..


The first time you fell in love.. Yes, your first love. Do you remember?
Was it the boy/girl who sat next to the window? Or was it the boy/girl who sat next to you? 
Me? He's the boy who sat at the back of the class. *chuckle*


Unfortunately, after 4 years of silently having a crush on that boy, I experienced another first moment of mine; the first time of me getting my heart broken. Haha.
P/S: Don't worry, I'm not going to be all cheesy wedges here. The significance of me telling that particular first moment is because, that is also the beginning of my turning point. 


Yes, turning point of my changes. 
(Aisehmen, belum cukup angel pun lagi sebenarnya. Hahaha)








...I was looking outside the window as I reflected on myself and what I had been through. Yes, very dramatic. Haha. I said to myself, "I never thought that loving someone would be this painful." Waiting wasn't easy, you know. Especially when you waited for 4 years and you ended up frustrated. 4 years was a long time, not to mention how long it felt like when you spent it, waiting. 


That was also the moment that I began to realized, "At the end of the day, only Allah stays with me. At the end of the day, only Allah who will endlessly and infinitely love me. Allah, just Allah. Allah will never hurt me, never. At the end of the day, He's the one who's still there, because He is indeed everywhere. And He never leaves. That is how much Allah loves me. But the question is, how much have I done for Allah, how much love have I offered Allah, what have I done for my love towards Allah? Nothing. I'm too occupied with my love towards human, I forgot that true love is indeed Allah. I was too busy waiting for someone, I forgot that Allah has been waiting for me all this time. If 4 years is long, imagine all those years that Allah has never given up on me, continue waiting for me. I forgot Him, I forgot. I forgot that above all, Allah should be  the first one, Allah should be on top of the list of our beloved."


I burst into tears.


Remember those moments when you did wrong and suddenly someone gave you a slap on your face? That's how I felt like. Felt like having a slap, a hard slap on my face. Because only then I began to realize that true love belonged to Allah.


The first time I got my heart broken, I felt so broken and lost. Mending my heart, trying to put my life back to pieces, only then I realized that the only one who can mend my heart was Allah and the only one who had given me purpose in life was Allah. I didn't live merely because of a guy's love, I lived because of Allah's love towards me. Life is a blessing, a gift from Allah. So, based on what reason should I be ruining that gift for someone else? Especially for someone who didn't stay for you whereas Allah's always there. It's not worth it.







Ever since that, I walked slowly towards Allah. Because I love to read, I began with teaching myself on reading religious materials. When in the past I only read English teen novels and sometimes, Malay novels (mostly, the cintan-cintun type. Hahaha). From someone who loved punk rock music (yes, it might be hard for you to believe), I began to teach myself to listen to nasyid songs, which I found so weird to my ears at first. Then, I trained myself to cover my aurah properly. I began wearing socks whenever I went out from the house. Because I used to feel very uncomfortable wearing it, so I started with the very thin socks and alhamdulillah, now I can wear even the very thick ones with ease. I used to feel uncomfortable wearing it, but now I feel uncomfortable NOT wearing it. Haha. Alah bisa tegal biasa whaaaattt?? Ehehe.


On top of everything, I'm still walking towards Him though. I always remind myself, "Never stop walking." The only moment when I should stop walking is the moment when I finally meet Him (inshaAllah), which is for sure in the Hereafter. People say, "Dream high!" So, I dream to meet Him. Because nothing is higher than Him. So what kind of dream would be higher than that, what kind of dream could possibly beat meeting Him? None.


Allah says, "Take one step towards me, I will take ten steps towards you. Walk towards me, I will run towards you." (Hadith Qudsi)


Therefore, let's continue walking. One step at a time. Takbir! 










Learn to love Allah and you'll know what love is.

18 Nov 2012

Aisya Humaira : Menatap dunia kali pertama

Aisya Humaira, anak kecil yang masih merah pipinya, matanya bundar seindah bulan purnama, tawa manjanya mampu mengubat mana-mana hati yang lara.

Dia berlari anak menuju ke arah ibunya sambil tangan kecil mulusnya itu menutup kedua telinga.
"Ibu, lihat tu! Banyak sungguh kapal di langit ibu! Mereka mahu ke mana ibu?" jerit kecil Aisya agar didengari ibunya, menewaskan kelantangan bunyi-bunyi sonic boom jet-jet pejuang yang melintasi mereka.

"Aisya, mahu ke mana sayang?" jawab ibunya yang sedang menjemur pakaian di halaman rumah

"Tidak ibu, Aisya hanya mahu bertanya kepada ibu. Kapal-kapal itu mahu ke mana ibu?"

"Oh..sejujurnya ibu pun tidak pasti sayang. Tapi ibu rasa itulah pejuang-pejuang Islam kita yang bakal berjuang di jalan Allah. Mereka akan ke Gaza sayang,"

"Mengapa ke Gaza ibu? Apa yang ada di Gaza ibu? Mereka ada saudara di sanakah ibu?"

Oh anakku, engkau masih mentah untuk mengetahui keadaan dunia. Tapi biarlah ibu menerangkan selembutnya kepadamu, agar tidak lenyap umat Islam yang masih mengambil cakna isu umat Islam ini.

"Aisya, mereka ke sana untuk berjihad sayang. Berjihad untuk membantu saudara-saudara kita yang ditindas, saudara yang tidak bertalikan darah, tetapi saudara yang bertalikan aqidah. Ketika ini mereka sedang dibunuh sayang, dibunuh kerana mempertahankan apa yang sepatutnya menjadi hak mereka,"

"Siapa yang membunuh itu ibu?"

"Mereka itulah kaum Yahudi sayang, menggelar diri mereka yang berhak ke atas tanah Israel yang sudah jelas di mata dunia sebenarnya hak milik anak-anak Palestin." jawab ibunya

Dia mendukung Aisya ke arah sepohon pokok kurma. Mereka berdua duduk di atas pangkin yang tersedia di situ. Kemudian mereka bersama-sama melihat keindahan ciptaan Tuhan di hadapan mereka. Melihat luasnya padang pasir yang dahulunya menjadi saksi perjalanan hidup Nabi Musa a.s

"Aisya, sesungguhnya Gaza itu telah lama berdarah. Namun hakikatnya, cinta yang kita beri kepada mereka hanyalah cinta bermusim. Mungkin membara hari ini, esok menjadi abu, lusa ditiup angin lalu menjadi debu dan hilang tanpa bekas. Lihat betapa rapuhnya pegangan umat Islam hari ini sayang'

"Bagaimana dengan saudara-saudara sebaya aisya di sana ibu?"

"Saudara-saudara Aisya ketika ini tidak sebertuah Aisya sayang. Ada yang telah kehilangan ibu ayah, abang kakak, malah ada yang tidak sempat mengetahui siapa ahli keluarganya kerana semuanya telah gugur syahid mempertahankan agama dan tanah yang mereka cintai.  Tatkala Aisya ketawa ria bermain mesra, anak-anak kecil disana membesar dengan membaling batu ke arah musuh, dan anak-anak ini jugalah yang akan membina roket mereka sendiri membalas segala ketidakadilan yang dilakukan Israel"

Perlahan, mutiara jernih mengalir di pipi Aisya

"Mengapa Aisya menangis sayang?"

"Aisya kasihankan mereka ibu. Banyak sungguh dugaan mereka. Tidak tertanggung rasanya andai Aisya sendiri mengalaminya"

"Jangan risau sayang. Merekalah antara insan-insan yang paling kental sekali di dunia ini. Biar saban hari jet musuh menghujani dengan bom-bom dari atas, tetapi mereka tetap percaya Tuhan lebih tinggi daripada jet-jet itu."

"Aisya berdoa semoga mereka beroleh kemenangan suatu hari nanti ibu"

"Sudah pasti sayang, sudah pasti"

"Ibu, di mana ayah ibu?"

"Ayah aisya di atas, tengah update blog. Katanya untuk blog I-Universal, entri tentang Gaza"

"Oooohh.." balas Aisya sambil mengukir senyuman

*************

14 Nov 2012

Hijrah 2.0

Tentunya tipikal dan klise tulis entri pasal hijrah waktu tahun baru Hijrah. Then again, a reminder every now and then -- no matter how cliche it is -- is surely important.

Beberapa minggu kebelakangan ini aku rasa kosong tapi pada masa yang sama juga aku rasa berserabut. Hidup ini macam penuh dengan tanggungjawab, penuh dengan perkara yang perlu aku lakukan, penuh dengan karenah, penuh dengan manusia yang tidak mampu faham maksud kerja berkumpulan.


Dalam keserabutan itu juga aku sedar bahawa hidup ini penuh dengan ujian, supaya kita semua sedar dan tunduk -- agar masuk semula ke landasan yang sebenar.


Dalam keserabutan itu juga ada insan yang mengingatkan aku untuk perbaiki niat dalam setiap perkara, untuk sentiasa mengingati Dia -- Allahu Rabbi.


Maka, dalam keserabutan dan kekosongan itu juga, aku cuba bangkit dan melakukan hijrah: Kekosongan diisi dengan kecintaan mendalam terhadap Ilahi, keserabutan dileraikan dengan ketenangan jiwa yang tunduk dan patuh.


Hijrah 2.0 namanya.


Hijrah demi menundukkan nafs-nafs yang bergelumang dalam jiwa. Hijrah demi mengutuhkan iman dan takwa. Hijrah demi bergerak ke arah mardhatillah.


-- atas meja, bilik kawan. UKM.

11 Nov 2012

Pertama Tapi Terakhir..

Yang pertama mengazankanku, melindungiku, dan mengajarku Alif Ba Ta adalah Ayahku.. 
Alhamdulillah..
Yang pertama menciumku, menyusukanku dan mengasuhku adalah Ibuku.. 
Alhamdulillah..
Yang pertama membawaku bermain, memanggilku adik dan mengajakku mengaji adalah Abangku.. 
Alhamdulillah..

Dan aku adalah yang pertama dan terakhir mereka. Anak perempuan pertama dan terakhir. Adik perempuan pertama dan terakhir. Manisnya gambaran yang Allah lakarkan buat keluarga kecilku. Bersyukur kerana saat pertama kali mata terbuka, semuanya cukup tanpa ada kurang walau sedikitpun. 

Kini aku membesar dan terus membesar. Aku sentiasa menapak kehadapan hingga terlupa insan-insan ini juga semakin meniti usia. Bumi yang kupijak ini tidak wujud seandainya tiada insan-insan pertama dalam hidupku ini..Kecilnya aku diantara mereka bertiga. Terlalu banyak yang mereka korbankan. Pertama kali yang mereka berikan padaku selalunya indah namun bagaimana pula yang pertama kali aku berikan?

Setengah jam memikirkan perkara pertama yang manis dan baik pernah kuberikan namun seringkali terkubur kerana mereka telah memberikan yang lebih baik. Namun kurang seminit memikirkan perkara ini buat pertama kalinya aku tersentap? Bagaimana:

Pertama kali aku melawan kata mereka?
Pertama kali aku meninggikan suara.?
Pertama kali aku menipu?
Pertama kali aku menderhaka?

Tertampar dengan setiap persoalan bukan? Ya, sememangnya pipiku sudah pijar merah disini. Tertampar dengan soalan yang membuatku terfaktab bila disoal satu demi satu. 

Namun yang penting disini bukanlah bila pertama kali persoalan diatas aku lakukan. tetapi bilakah hari terakhirnya? :) Aku harus mengatakan hari ini bukan? Dan aku berharap kamu juga begitu. Seandainya sudah terlajak kelakuan pertama kalinya.. Janganlah terus melajakkan diri. Insan-insan ini bukan selamanya milik kita, bukan selamanya bersama kita dan kita tidak akan tahu bila terakhir kalinya kita untuk bersama mereka. 

Jadi, Terima Kasih Allah s.w.t kerana memberikan mereka kepadaku.

Allah s.w.t itu Maha Pemurah lagi Maha Pengampun. 
Maha Bijaksana dan Maha Berkuasa.


Permata Pertama.

Pepatah Melayu ada mengatakan, " Melentur buluh, biarlah dari rebungnya."

Amboi! Intro pun sudah macham karangan kertas satu Bahasa Melayu. Biasalah. Demam SPM. Doakan saya ya kawan kawan. *ahem*

Cuti yang panjang betul-betul membuatkan diri semakin rajin melawat laman sosial biru tua dan biru muda itu. Muka buku dan apa tu? Penciap? (Rujuk balik Google translate)

Bahasa fofular nya Facebook dan twitter. Tapi entah kenapa jemari ini lebih suka menari dan terlebih gembira acapkali melawat twitter. Baru-baru ini,ada seorang anak gadis berusia 14 tahun yang dahulu pernah menjadi finalis dalam sebuah program realiti kanak-kanak. Agak fofular juga rasanya. Idola Kecil. Tahu tak? Tidak? Itulah.Heh, samalah kita. Anyway, beliau kata sudah hampir 5 tahun meninggalkan program itu. Rindu rasanya. Kata sang peminat, beliau cantik, semakin dewasa semakin cantik. Rambutnya, wajahnya. Mengusik hati sang Adam, mulalah keluarkan ayat-ayat semanis gula-gula kapas, tanpa menyedari bahawa pakaian dalam masih ditaja oleh Pa dan Ma. 

Bukan. Ini bukan cerita mengaibkan. Hamboi. Cerita pasal orang saja laju nak baca. Bukanlah. Cuma hati rasa resah. Belai baru 14 tahun. Tapi tanya sahaja fasal make-up, pewarna rambut, artis itu, artis ini, crush sana, crush sini. Dari mana dia belajar semua ni? Ibu bapa? Agak mustahil, tapi boleh jadi. Ataupun, program tu? Program apa? Program tuuuu *muncungkan mulut*

Lihat keadaan sekarang. Bagaimana keadaan remaja kita. Kes "5 days mc" kalau ada yang tahu. Kes "cem*l*t di tepi jalan" dalam youtube. Kes "blog erotik". Kes buang anak. Kes zina. Kita lihat. Kita sedih. Kita risau. Tapi , apa tindakan kita? Remaja itu asalnya dari apa? Mereka tidak akan lahir terus-terus menjadi remaja. Kan? Harusnya jadi apa? Jadi anak-anak kecil. Kan? Okey kenapa tiba-tiba keluar slang Indonesia pulak. So anyway, ya. Cuba buka rancangan di televisyen. Rancangan untuk kanak-kanak bagaimana? Idola Kecil, Tom-tom Bak, Superstars, Kids Award. Ya. Diri ini tahu. Kenapa? Sebab media kita dipenuhi benda-benda ini. Kita tidak akan dapat lari. Inilah perkara yang berada di sekeliling kita. 

Ya, kita perlu mengawal diri. Bimbing diri. Tapi, anak-anak kecil itu, tahukah mereka apa ertinya mengawal diri? Membimbing diri? Jaman anda kanak-kanak dahulu. Ibu anda kata, "Pele, jangan kau mandi sungai sanaaaa." Terus anda kata, "pandai juga aku jaga diri aku makkk." Tapi betul kah anda pandai jaga diri? Ibu anda bawa ke kedai runcit Cina kudung (serius kedai ni ada. Di Sabindo, Sabah) dan berpesan dari awal, "Jangan macam-macam. Masuk kedai jak, jangan mengada mau beli itu ini." Anda kononnya akur. Tapi setelah diri itu masuk ke dalam kedai runcit ada ais krim, coklat, Keropok, Tora-tora segala. Mampukah anda kawal diri? Bimbing diri dan kata "Ugou, jangannn. Mama sudah pesan kan jangan mengada." Ketika umur 5 tahun? Tidak mungkin. Kita semua pernah berada di fasa itu dan semestinya kita tahu :)

Kenapa anak-anak kecil itu dididik untuk mencintai hiburan? Diajar untuk menyanyi, mengejar bakat kononnya yang cantik suara, pandai berlakon, pandai dalam peragaan, dan sebagainya. Nanti bila anak-anak itu menolak untuk belajar, marah. Di mana silapnya? Acuan kita kah? Mungkin kita terasa "ah, aku lambat lagi ada anak". Tidak. Adik-adik anda? Anak buah anda?

Anak-anak kecil lah permata kita. Permata yang pertama sekali. Kalau salah acuannya, salah lah semua. Kalau betul dan cantik acuannya, cantiklah hasilnya. Bukannya tidak boleh diubah. Boleh. Tapi kan lebih baik mencegah daripada mengubati? Mungkin ada yang berbalah, kata tidak semestinya kalau kecil warak, sudah besar akan terus jadi begitu. Jangan mudah mengalah. Belum cuba apa-apa lagi sudah menghukum. Didik sahaja sebaiknya. Sudah besar nanti, kalau dia tersalah jalan, anda telah melakukan yang terbaik. Hal itu adalah urusan dia dan Dia sahaja. Itu lain cerita. Kita anggap sebagai ujian buat kita, dan ujian terbesar buatnya.

Mata lagi sedap dan hati jadi seronok bila tengok Program Adik-adikku di RTM Tv1. Mendidik dan mentarbiyah anak-anak kecil itu menyelami jiwa muslim sebenar. Melahirkan Pendakwah cilik. Menyemai semangat jihad itu. Bagaimana berhadapan dengan orang ramai, siapa tokoh sebenar, apa panduan yang utama. Bukannya dengan cara "terimakasih peminat" tetapi dengan cara "terima kasih murabbi, terima kasih Ya Rabbi". Biar mereka kenal siapa "Muhammad bin Abdullah" sebelum mereka kenal siapa "Justin Bieber". Biar mereka kenal, fasih dan lancar membaca bait-bait surah Yaasin tanpa merujuk al Quran, sebelum mereka lantang menyanyikan lagu "Sudah cukup sudah". Biar mereka tahu apa itu erti mulia di sisi Allah dan manusia, sebelum terjatuh menjadi mulia di sisi manusia, hina di sisi Allah. Anak-anak itu suci. Lenturlah sebaiknya. Coraklah seindahnya. Seindah nama mereka :)

Percayalah, setiap kebaikan yang mereka lakukan hasilnya daripada acuan kita, akan ada saham nya di akhirat, yang akan dinilai seadil-adilnya <3

nota kaki :: teringat lagu ni, 

Tidak rugi kita berakhlak mulia
Malah Allah lebih-lebih lagi suka
beramal sopan kita sentiasa
Moga mendapat keredhaan Nya
Keredhaan Nyaaa

(kalau ada tersalah lirik, maafkanlah hamba)

9 Nov 2012

Cinta Pandang Pertama

Entah bila kali pertama saya melihatnya secara sedar. Apa yang saya tahu, setelah beberapa kali melihat wajah yang sama barulah hati ini benar-benar terpaut padanya. Barulah wajah yang biasa itu kelihatan seperti yang tercantik di dunia. Dan setiap kali berdekatan dengan dirinya, terasa seperti ada satu perasaan halus mengalir di dalam jiwa. 

Dialah insan yang pertama kali menimbulkan rasa cinta dalam hati ini. Rasa cinta yang memberi inspirasi untuk saya teruskan hidup sepanjang hari. Saat saya dilanda kesusahan, dialah yang berusaha membantu menyelesaikannya. Dia jugalah yang membantu menenangkan diri ini di saat genting.


Betapa pentingnya dia dalam hidup saya, sehingga langsung tidak dapat saya bayangkan apa bakal terjadi kepada hidup ini seandainya dia pergi dulu menyahut panggilan Ilahi yang terakhir.


Cinta pandang pertama, itulah cinta yang paling banyak sekali digandingkan dengan rasa ikhlas. Ia adalah cinta yang paling mahal. Paling sukar untuk dicari di dunia. Sekali pergi, pasti tiada lagi. Pesanan untuk yang sedang membaca, hargailah cinta pertama anda selagi masih ada. 





"Ibu, you will always be my first lover. Terima kasih lahirkan saya dengan rasa cinta~"

Pages

About